Menu
Percayakan pembuatan seragam organisasi anda kepada kami, Kualitas produk dan layanan terbaik adalah prioritas kami

SERAGAM SEKOLAH BATIK UKIRAN COKLAT

Feb
19
2018
by : d****. Posted in : Sekolah

S065 SeragamSekolahKerja

SERAGAM SEKOLAH BATIK UKIRAN COKLAT

 

Seperti halnya musik yang tak akan pernah pisah dari sebuah nada. Burung yang tak akan berpisah dengan kicaunya. Ataupun kopi yang tak akan pernah bisa lepas dari lekatnya aroma khas kopi itu sendiri.
Cafe yang tak akan pernah berubah. Masih tetap sama. Segudang jejak kaki, seribu canda tawa, seratus kopi yang dipesan, puluhan kesedihan, dan satu kata perpisahan. Seperti bayangan nyata, segalanya masih tetap terlihat di dalam cafe bertuliskan ‘Spare Time’ di atasnya.
Aku terdiam mematung, menyapu pandanganku ke dalam cafe tersebut melalui jendela bening. Kebisuan yang sudah hinggap dalam diriku selama setengah jam aku berdiri disini.
‘Cling’ bel tanda ada tamu yang hendak memasuki cafe tersebut. Aku menoleh dan melihat seorang pria dengan perawakan tinggi, sedikit kurus, dengan kulitnya yang kuning langsat. Pria tersebut memasuki cafe ‘Spare Time’ dengan senyumnya yang mempesona, menghampiri pelayan dan memesan sesuatu.
Pria tersebut berjalan ke arah dimana bangku yang dipilihnya berdekatan dengan jendela yang sedang ku lihat saat ini. Posisiku sekarang, tepat berhadapan dengan pria tersebut. Walau kami dipisahka  oleh kaca bening.
Selang beberapa menit, pelayan tadi datang menghampirinya. Membawa segelas coklat panas. Aku tersenyum, selalu minuman itu yang ia pesan. Dan lagi, aku tersenyum saat pria tersebut meniup coklat panasnya sebelum meneguknya dengan penuh kenikmatan.
‘Cling’ , bel cafe berbunyi kembali. Tanda ada seseorang yang masuk. Kali ini, seorang wanita bertubuh mungil, kulit putih, dan mata sipitnya ketika ia tersenyum.
Aku tersenyum  melihatnya. Sama seperti pria sebelumnya, wanita itu memesan minuman yang ia suka dan duduk di samping pria jangkung tadi. Ia membuka laptop yang selalu dibawa kemanapun ia pergi. Mengetik kata demi kata. Sebelum tulisannya berakhir, minuman yang dipesannya datang. Coklat panas. Itulah minuman yang ia sukai. Sama seperti pesanan pria jangkung yang kini masih asik meniup coklat panas miliknya.
Wanita tersebut langsung meminum coklat panasnya tanpa terganggu dengan panas yang sudah dirasakan oleh lidahnya. Tanpa ia sadari, pria jangkung itu menatapnya dengan mata yang tak lepas dari gelas coklat panas milik sang wanita.
“Apa kau selalu meminum minuman panas tanpa meniupnya terlebih dahulu?” Tanya pria jangkung.
Sedangkan sang wanita hanya menengokkan kepalanya ke kirir dan ke kanan. Menandakan bahwa tidak ada lagi seseorang yang ditanya selain dirinya.  Wanita mungil itu mengarahkan telunjuk kanannya tepat di depan hidung miliknya.
“Aku?”
Pria jangkung tersebut tertawa dan mengangguk. “Ya, kau. Tidak ada lagi wanita kecil yang ada di sampingku,”
“Kau yang terlampau tinggi, bukan aku yang pendek,” sang wanita mulai kembali pada aktifitas awalnya, mengetik sesuatu.
“Aku tidak berkata pendek, tapi mungil,” elak sang pria.
“Sama saja,” ujar wanita tersebut dengan ketus.
Aku tertawa kecil melihat adegan pertengkarang kecil diantara dua manusia tersebut. Aku tersenyum, mengamati betapa indahnya hidup jika segalanya berawal dari sebuah pertemuan yang tidak pernah terduga sebelumnya. Sekali lagi, kedua sudut bibirku terangkat membentuk senyuman, lalu pergi bersama bayangan yang turut pergi dari cafe tersebut.
Hari berikutnya, aku kembali berdiri mematung di depan jendela cafe ‘Spare Time’. Aku melihat kedua manusia yang kemarin ku lihat tengah asik bercanda satu sama lain. Padahal baru kemarin aku melihat mereka berdebat soal mungil dan pendek. Sang wanita masih dengan coklat panas dengan asap yang masih mengepul di atasnya. Dan sang pria, sama seperti sang wanita. Yang berbeda hanya kepulan asapnya saja.
“Apa kau tidak lelah selalu meniup coklat panasmu setiap detik?” Tanya wanita itu dengan wajah yang ia condongkan untuk melihat coklat panas yang sebenyar lagi akan menjadi coklat dingin milik sang pria.
“Aku tidak ingin lidahku putih,” jawabnya dan kembali meniup coklat panasnya.
“Lidahku selalu merah muda,” sang wanita menjulurkan lidahnya.
“Kau terlihat sepeti buldog lucu jika seperti itu,” ujar pria tersebut dengan tawanya yang tak bisa dihentikan. Sedangkan sang wanita hanya bisa memandang tak suka. Sang pria tiba-tiba  merintih kesakitan dan memegang dada kirinya.
“Ada apa denganmu?” Sang wanita mulai memandang pria tersebut dengan tatapan khawatir. Tapi sang pria hanya menggeleng dan tersenyum.
“Kau mengkhawatirkanku?” Tanya sang pria dengan alis kirinya yang diangkat.
“BIG NO!!” Sang wanita kembali meminum coklat panasnya dengan kesal.
Senyumku mulai luntur, itu adalah saat dimana aku mulai mengerti apa arti rasa sakit. Aku masih menatap kedua manusia itu dengan tatapan yang mulai sayu. Disana, aku tidak menyadari apapun. Aku yang tidak dapat melihat betapa tersiksanya dia, walau dia ada di sampingku. Mataku benar-benar tertutup saat itu. Aku menghela napas dan pergi meninggalkan cafe tersebut, selalu bersama bayangan yang sudah menjadi butiran pasir tertiup angin.
Keesokan paginya, aku kembali ke cafe tersebut. Tapi kali ini, aku bukan hanya berdiri di ddepan cefe, tapi melangkahkan kakiku untuk masuk dan duduk di tempat wanita yang kemarin kulihat. Di bangku yang berhadapan langsung dengan jendela.
Selang beberapa detik, pria jangkung itu datang dan duduk di sampingku. Aku hanya dapat memperhatikan dirinya yang tengah menuliskan sesuatu di ujung meja ini. Tiba-tiba ia memegang dadanya dan mulai terlihat keringat membanjiri keningnya. Tapi ia masih tetap menuliskan sesuatu yang menurutku cukup panjang. Tulisan tersebut bagaikan ukiran yang tak pernah hilang.
Tanpa terasa, liquid bening mulai turun membasahi kedua pipiku. Aku mulai mengerti, tulisan inilah yang akan ia perlihatkan padaku ketika aku kembali ke cafe ini. Aku tak sempat melihatnya lagi dulu. Aku begitu kejam karena membiarkan perasaanku terabaikan, aku yang begitu kejam karena sudah meninggalkannya sendirian ketika ia harus berusaha menahan rasa sakitnya seorang diri. Aku yang begitu kejam karena tak ingin mendengarkan penjelasannya. Segalanya behubungan antara aku dan kekejamanku padanya.
Sang pria menjatuhkan pensilnya dan keluar dari cafe tersebut, masih dengaan memegang dadanya yang terasa sakit. Aku hanya dapat melihatnya berjalan dengan terhuyung. Tepat di hadapanku. Pria jangku itu menatap mataku, dengan senyuman terakhir yang ia pelihatkan. Setelah itu, tubuhnya jatuh dan menghilang begitu saja.
Tangisanku semakin menjadi. Aku mencoba membaca tulisannya yang sudah terukir dengan indah di ujung meja.
‘Selamat pagi mungil. Tentu saja ketika kau membaca tulisan ini, aku sudah tak ada di dunia. Dimana kau selama ini? Mengapa kau tak pernah mengunjungi cafe ini lagi? Begitu banyak pertanyaan yang mengitari kepalaku tentang dirimu. Tapi aku selalu bersyukur jika kau baik-baik saja dan membaca tulisan ini. Kau tau? Coklat panas itu adalah dirimu, sedangkan coklat panas yang dingin adalah diriku. Dan seperti itulah hidupku. Hidup, kemudian menjadi dingin dan menghilang seperti asap yang mengepul.  Tapi aku ingin kau selalu menjadi coklat panas untukku. Tidak pernah dingin dan tidak akan pernah menghilang dari memoriku. Aku harus pergi. Sampai berjumpa lain waktu ^^ ‘

PEMESANAN

Hubungi Kami Sekarang Alamat : Jl. Salak 5 No. 125 RT. 4/19 Ngringo, Jaten, Karanganyar, 57772 Telepon : 0271 – 8202839 Handphone : *085647595948 *085725072225 Pin BB : * DOAB5E4B Email : marketingkayamara@gmail.com Jam Kerja : 09.00 – 17.00 ( Senin – Jumat ) 09.00 – 14.00 ( Sabtu )

klikbatikkayamara Ngobrol dengan CS Kami

artikel lainnya SERAGAM SEKOLAH BATIK UKIRAN COKLAT

Friday 18 August 2017 | Blog, Dinas, Kantor, Komunitas, Motif, Sekolah

Salah satu alasannya adalah guru yang sudah diangkat menjadi pegawai negeri bisa menerima gaji bulanan yang…

Wednesday 6 September 2017 | Komunitas, Motif, Sekolah

Penelusuran yang terkait dengan Batik Seragam Remaja model baju batik remaja lengan panjang desain baju batik…

Monday 22 January 2018 | Blog, Dinas, Kantor, Keluarga, Sekolah

seragam batik atasan Semangat pagiii!! Di pagi yang cukup cerah ini kami akan membeberkan beberapa tips…

Wednesday 10 January 2018 | Blog, Dinas, Kantor, Komunitas, Motif, Sekolah

seragam batik untuk guru Program melestarikan budaya Indonesia khususnya kain batik juga tidak lepas dari para…

Jl. Salak 5 No. 125 Ngringo, Jaten, Karanganyar 57772, Solo - Indonesia
02718202839
085647595948
DOAB5E4B
085647595948
cintakayamara@gmail.com